Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan

Indikasi Geografis (IG) adalah tanda yang menunjukan tempat, wilayah atau daerah asal suatu barang yang karena faktor lingkungan geografis (alam, manusia atau kombinasinya) memberikan ciri, karakteristik, reputasi atau kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan. Manfaat perlindungan IG antara lain: a) memperjelas identifikasi produk dan standar produk, b) memberikan perlindungan konsumen, c) menjamin kualitas produk IG, d) membina produsen lokal, e) meningkatkan produksi barang terdaftar IG dan f) reputasi daerah asal IG ikut terangkat.

Dalam rangka pendaftaran kopi Robusta Bogor sebagai produk IG, Kabupaten Bogor melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Distanhorbun) bekerjasama dengan PT RPN mengkaji kelayakan kopi Robusta Bogor untuk disertifikasi Indikasi Geografis melalui kegiatan “Kajian Analisis Basis Data Pengembangan Kopi Bogor Mendukung Indikasi Geografis”. Harapannya apabila produk kopi Robusta Bogor telah terdaftar IG, maka kualitas kopi Robusta Bogor akan dikenal dan juga harga jual kopi Robusta Bogor dapat meningkat. Dengan demikian, pendapatan petani kopi Robusta yang ada di Kabupaten Bogor akan lebih tinggi.

Kajian analisis basis data dilaksanakan di dua kecamatan yang merupakan wilayah potensi kopi di Kabupaten Bogor yaitu Kec. Sukamakmur dan Kec. Tanjungsari. Luas areal kajian analisis basis data di Kec. Sukamakmur mencakup tiga desa yaitu Desa Sukamakmur Sukamakmur, Sukaharja, dan Sukawangi seluas 1.353,26 ha, sedangkan Kecamatan Tanjungsari mencakup dua desa yaitu Desa Tanjungsari dan Antajaya seluas 339,24ha. Pelaksanaan Kajian dilaksanakan mulai April sampai Agustus 2017 (empat bulan efektif) yang terdiri dari kegiatan kunjungan lapangan, analisis data dan pelaporan.

Pada tanggal 8 Agustus 2017 telah dilaksanakan Pembahasan Laporan akhir kajian Kajian Analisis Basis Data Pengembangan Kopi Bogor Mendukung Indikasi Geografis yang dihadiri oleh petani kopi dari kec. Sukamakmur dan tanjungsari sebanyak 20 orang dan dari beberapa undangan seperti KPH Bogor Perhutani, Bappeda Litbang, Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Desa,Dinas Perindustrian dan PerdaganganDinas Ketahanan Pangan, Dinas UKM dan Koperasi, UPT PTPH Wilayah Jonggol, UPT PTPH Wilayah Cariu, dan perwakilan dari setiap bidang Distanhorbun. Dalam pertemuan ini juga mengundang narasumber dari Direktorat Jenderal Perkebundan yang diwakili oleh Bapak Endy Pranoto S.Sos, MSc dan Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar yang diwakili oleh Bapak Dr. Ir. Samsudin Msi.

 

Berdasarkan laporan PT RPN diketahui bahwa Tipologi Kebun dan Kelompok Tani di Areal Kajian dibedakang menjadi beberapa tipe, sebagai berikut:

No

Tipologi

Kecamatan

Desa

Poktan

1

Baik

Tanjungsari

Tanjungsari

Guna Tani Abadi

2

Cisarua

Tugu Utara

KTH Cibulao Hijau

3

Sedang

Tanjungsari

Antajaya

Sami Sejahtera

4

Sukamakmur

Sukaharja

Desa Sukaharja

5

Sukamakmur

Sukawangi

Mandiri II

6

Kurang

Sukamakmur

Sukaharja

Daun Sejati Jaya I

7

Sukamakmur

Sukamakmur

Wiramakmur

 

Berdasarkan hasil kajian, perlu dilakukan serangkaian upaya perbaikan agar produk kopi Robusta Kabupaten Bogor layak didaftarkan sebagai produk Indikasi Geografis. Strategi tersebut meliputi standariasi budidaya dan pengolahan kopi. Rekomendasi perbaikan dibagi menjadi aspek agronomis, aspek panen dan pengolahan, serta aspek administratif IG. Setiap rekomendasi memiliki intensitas upaya perbaikan baik rendah, sedang, dan berat yang relatif terhadap masing-masing tipologi tergantung gap antara kondisi budidaya, panen, dan pengolahan eksisting dengan standar acuan (SOP). Upaya perbaikan dilaksanakan secara bertahap dan dibagi ke dalam tiga jangka waktu yaitu jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang di setiap tipologi kebun. Perbaikan juga meliputi aspek non teknis yaitu kelembagaan petani. Beberapa upaya penguatan kelembagaan petani dapat dijadikan rekomendasi agar upaya perbaikan teknis (agronomis, panen, dan pengolahan) dapat berjalan secara efektif dan masif. Penguatan kelembagaan juga melibatkan stakeholder terkait, antara lain pemerintah daerah dan pusat serta Perum Perhutani Kabupaten Bogor.

 

Agronomis

Perbaikan jangka pendek dari aspek agronomis adalah pangakasan tanaman kopi bentuk bangku yang dikoordinir oleh brigade pangkasan. Pangkasan bentuk bangku dipilih karena secara teknis lebih mudah dilakukan dan tidak memerlukan keterampilan (skill) yang tinggi dibandingkan bentuk Merci. Pengelolaan pohon penaung/tanaman kayu eksisting juga diperlukan guna menjaga pohon kopi tetap ternaungi dengan baik pada awal-awal program perbaikan kebun kopi sebelum dilakukan di penanaman baru pohon penaung/tanaman kayu di tahun-tahun berikutnya. Penataan ulang pola dan jarak tanam secara poliklonal sesuai status lahan juga perlu dilakukan mengingat kopi Robusta bersifat poliklonal sedangkan di lapangan asal klon masih belum jelas dan sangat mungkin monoklonal. Selain itu, pengendalian hama khususnya PBKo dapat dilakukan dengan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dan mengutamakan penggunaan pestisida organik. Tidak kalah penting adalah aplikasi pupuk organik (kandang) dengan dosis sesuai hasil pengujian tingkat kesuburan tanah sehingga input hara yang diberikan sesuai dengan kemampuan penyediaan tanah bagi tanaman.

Perbaikan jangka menengah yang direkomendasikan untuk dilakukan adalah penyambungan dan peremajaan tanaman kopi. Penyambungan dilakukan pada kebun kopi dengan populasi >60% standar dan perakaran tanamannya masih bagus. Tujuannya adalah agar tanaman- tanaman yang walaupun dari segi fisik masih kokoh namun klon turunan dapat diganti dengan entres klon unggulan. Sebaliknya peremajaan tanaman kopi dilakukan pada kebun kopi dengan populasi <60% standar, perakaran tanamannya sudah kurang bagus, dan tidak produktif. Tujuannya adalah agar tanaman-tanaman yang tidak produktif tersebut dan secara ekonomis tidak layak disambung dapat diganti dengan bahan tanaman unggul. Bersamaan dengan peremajaan dapat diterapkan lubang tanam ukuran standar agar akar kopi berkembang dengan baik. Penyakit jamur akar juga perlu ditanggulangi dengan pembuatan parit isolasi yang diberi kaptan dan sulam pokok dengan bahan tanaman yang memiliki batang bawah klon BP 308 agar serangan tidak meluas dan mematikan tanaman kopi lainnya. Selain itu, pembuatan rorak dapat juga dilakukan secara mandiri oleh petani kopi sebagai lubang tempat penumpukan sisa pangkasan atau daun-daun kopi menjadi bahan organik yang berguna juga sebagai penampung cadangan air.

Perbaikan jangka panjang dapat dilakukan dengan melakukan penanaman dan pengelolaan tanaman kayu pada kebun yang berada pada lahan milik Perhutani sedangkan pada kebun milik petani dapat ditanam pohon penaung jenis anjuran seperti lamtoro. Selain penaung, perbaikan yang perlu dilakukan adalah pembuatan teras bangku khususnya pada areal dengan kemiringan lereng >8% guna mencegah erosi yang dapat menurunkan kesuburan tanah.

 

Panen dan Pengolahan

Perbaikan jangka pendek pada aspek panen dan pengolahan antara lain menyangkut petik merah, metode pengolahan full washed, standarisasi sortasi dan fermentasi, penggunaan pengering para-para atau sistem rak, penjemuran sampai kadar air standar, penggunaan alat ukur kadar air biji kopi, penyimpanan biji kopi di tempat standar, pembangunan UPH dan pengawasan mutu biji kopi. Perbaikan-perbaikan ini perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas mutu fisik dan citarasa biji kopi yang dihasilkan oleh petani setelah pengolahan. Perbaikan jangka menengah meliputi pembuatan sarana jemur permanen, optimalisasi operasional UPH, serta peningkatan produksi dan pengawasan mutu biji kopi. Perbaikan-perbaikan ini perlu dilakukan untuk menjaga kualitas mutu fisik dan citarasa biji kopi yang dihasilkan oleh petani setelah pengolahan.

 

Penguatan Kelembagaan Petani

Rekomendasi perbaikan juga perlu dilakukan dalam aspek kelembagaan petani. Penguatan kelembagaan petani dapat dicapai dengan langkah-langkah berikut:

  1. Penguatan kerjasama antar petani dalam koordinasi dan/atau pelaksanaan kegiatan usahatani: penyediaan input, proses produksi, panen, dan pengolahan.
  2. Penguatan kerjasama antar petani dalam koordinasi dan/atau pelaksanaan transfer teknologi (demplot; pelatihan; studi banding).
  3. Penguatan kerjasama antar petani dalam koordinasi dan/atau pelaksanaan pemasaran: keseragaman mutu; keberlanjutan volume; sistem pembayaran.
  4. Kerjasama kelembagaan petani (secara bersama-sama) dengan pihak ketiga (mitra): industri pengolahan; eksportir; perbankan.
  5. Rancangan Pembagian Peran/fungsi diantara lembaga petani.
  6. Koordinasi program fasilitasi petani (pemerintah pusat/daerah): Distanhorbun; Perum Perhutani; Dinas Koperasi dan UKM; Kementerian Urusan Desa.
  7. Optimalisasi fasilitas program untuk menjadi faktor pengikat kerjasama antar petani

 

Administratif IG

Selain upaya perbaikan bertahap di atas, langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh Poktan maupun Distanhorbun Kabupaten Bogor dalam rangka persiapan pendaftaran kopi Robusta menjadi Indikasi Geografis adalah sebagai berikut:

  1. Perbaikan kelengkapan data statistik perkebunan kopi Bogor
  2. Membentuk Masyarakat Peduli Indikasi Geografis (MPIG) dan legalisasinya sebagai lembaga yang dapat mendaftarkan produk kopi Robusta Bogor sebagai Indikasi Geografis.
  3. Menetapkan tipe produk kopi Robusta yang ingin didaftarkan sebagai Indikasi Geografis (green bean, roasted bean, kopi bubuk).
  4. Membuat logo dan nama produk kopi Robusta sebagai tanda produk yang didaftarkan Indikasi Geografis. Logo dan nama seyogyanya menggambarkan ciri khas dan sumber wilayah produksi kopi Robusta.
  5. Inventarisasi kelompok tani kopi Robusta di Kabupaten Bogor.
  6. Merancang format pengawasan oleh MPIG terhadap produksi dan pemasaran produk kopi Robusta yang akan didaftarkan ke Indikasi Geografis.
  7. Menyusun kode keterunutan untuk mengetahui keterunutan produksi berdasarkan jenis dan asal Poktan ataupun UPH sehingga dapat ditelusuri oleh MPIG jika tidak terdapat produksi yang tidak sesuai dengan standard mutu ataupun jika terdapat keluhan pelanggan. Di samping itu kode keterunutan bertujuan untuk melindungi produksi kopi Robusta Bogor dari tindakan pemalsuan oleh pihak luar.

 

Untuk dapat didaftarkan sebagai produk Indikasi Geografis, selain dilakukan beberapa perbaikan dari aspek budidaya, produksi, dan pengolahan, persiapan untuk mendaftarkan produk kopi Robusta Bogor sebagai IG juga melingkupi pembentukan MPIG, penetapan produk kopi yang akan didaftarkan, pembuatan merk dan logo, serta merancang format pengawasan dan kode keterunutan. Selain itu, Kabupaten Bogor berpotensi untuk pengembangan kopi secara lebih luas pada skala nasional maupun internasional.

Background  back2  back3 





Kalender Kegiatan

REB
28
Pasar Tani

Diselenggarakan pasar tani secara berkala setiap bulan


Lokasi : Halaman Kantor Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Bogor
DES
02
Pasar Tani

Diselenggarakan secara berkala setiap bulan


Lokasi : Kantor Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor
NOV
04
Pasar Tani

Diselenggarakan pasar tani Bulan November 2016 secara berkala tiap bulan


Lokasi : Kantor Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor
OCT
07
Pasar Tani

Diselenggarakan pasar tani Bulan Oktober 2016 secara berkala tiap bulan


Lokasi : Kantor Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor
SEPT
09
Pasar Tani

Diselenggarakan pasar tani Bulan September 2016 secara berkala tiap bulan


Lokasi : Kantor Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor
pohon
Bogor Coffee Festival 2016
Barista Competition
2017 © Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan