Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan

Waktu Dan Tempat Pelaksanaan   :

Hari/Tanggal      :   Rabu/ 20 April 2017

Waktu                :   Pukul 09.00 WIB – selesai

Tempat               :  Ruang Rapat Kantor Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Bogor

Hasil/ Kesimpulan :  

Acara Temu Teknis dimulai pukul 09.00 WIB dan dihadiri oleh 30  orang peserta yang berasal dari anggota kelompok tani:

  1. Daun Sejati Jaya        
  2. Cibeureum Makmur   
  3. Mekar Sejahtera         
  4. Wates                         
  5. Lebak Tegal Sari        

Sambutan Kepala Distanhorbun pada pembukaan sosialisasi  diantaranya :

Pembangunan bidang perkebunan perlu terus dilaksanakan secara berkelanjutan, pembangunan di bagian hulu dan hilir secara sinergis terus dikembangkan agar tercipta daya saing dan nilai tambah dari produk komoditas perkebunan, sehingga mampu meningkatkan peluang kerja dan peningkatan daya beli bagi petani.Dalam rangka meningkatkan produksidanproduktifitascengkeh rakyatuntuk meningkatkan kesejahteraan petani, maka PemerintahKabupaten Bogor melaluiDinasTanamanPangan, Hortikulturadan Perkebunan Kabupaten Bogor  mengalokasikananggaranuntukKegiatanRehabilitasi Cengkeh Rakyat yang bersumberpada Dana APBD  TahunAnggaran 2017untuk Rehabilitasi tanaman cengkeh di sentra-sentraproduksipengembangankaret.

Materi I.

Judul             : Budi Daya Tanaman Cengkeh

Narasumber   :  Ir. Agus Ruhnayat

Instansi          :  Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (BALITTRO)

Cengkeh berasal dari Banda Indonesia (Ridley,1912). Penyebaran tanaman cengkeh ke pulau-pulau lainnya di Ind di  mulai tahun 1798 pd saat Inggris menduduki Bengkulu, menyebar ke Lampung, Sumbar (1878) menyebar ke Tapanuli dan Aceh.  Pada tahun 1870 menyebar ke Sulawesi Utara.

Faktor yang mempengaruhi hasil dan produksi tanaman cengkeh

  1. Lingkungan Tumbuh (tanah, ketinggian tempat dan iklim)
  2. Genetis  (varietas/jenis, sifat berbunga, daya recovery)
  3. Budidaya (pemupukan, OPT, cara panen) 

Persiapan lahan

Tanaman cengkeh dengan sistem monokultur lahan tidak perlu dibajak, cukup menggali lubang yang akan ditanami saja, sedangkan dengan sistem polikultur dilakukan penggemburan tanah (digarpu, dicangkul atau ditraktor). Jarak lubang tanam yang digunakan untuk tanaman cengkeh yaitu 8 m x 8 m atau   8 m x 10 m atau 10 m x 10 m. Apabila akan ditanami tanaman sela tahunan jarak tanam yang digunakan adalah 12 x 5 m atau 14 x 6 meter. Pada lahan dgn kemiringan 8-15º dibuat teras guludan. Pada Lahan dgn kemiringan >15º dibuat teras bangku.

Lubang tanam dibuat pada tanah yang telah diberi ajir dengan ukuran panjang, lebar dan dalam masing-masing 75 cm. Pada tanah yang mengandung liat cukup tinggi ukuran lubang tanam dibuat lebih besar yaitu panjang, lebar dan dalam masing-masing 100 cm. Tanaman cengkeh sebaiknya ditanam dengan sistem polikultur karena tanaman cengkeh yang ditanam secara monokultur akan lebih mudah terserang oleh hama dan penyakit.

 

Penanaman

Penanaman benih cengkeh dilakukan pada waktu sinar matahari tidak terlalu terik yaitu pada pagi hari (pukul 06.00 – 10.00) atau sore hari (pukul 15.00 – 17.30). Tanaman yang baru harus diberi peneduh sementara yang terbuat dari daun kelapa atau alang-alang setinggi 30 cm di atas tinggi tanaman dengan intensitas cahaya ± 50 %. Peneduh sementara diadakan paling lama untuk dua periode musim kemarau setelah penanaman

Pemeliharaan

  • Penyiraman dilakukan 3 - 5 hari sekali pada saat musim kemarau terutama untuk tanaman berumur < 3 tahun.
  • Penyulaman dilakukan apabila ada tanaman yang tumbuhnya kurang baik. Bibit yang digunakan untuk penyulaman seumur dengan bibit yang sudah ditanam di kebun.
  • Gulma yang tumbuh disekitar perakaran tanaman (dibawah tajuk tanaman) dicabut, sedangkan gulma yang berada diluar tajuk tanaman cengkeh dibabat pakai parang menjelang musim kemarau.
  • Pemangkasan dilakukan pada cabang air, cabang yang mati dan batang ganda. Cabang air harus segera dibuang karena tidak produktif.

 

Pemupukan

  • Pupuk organik (pupuk kandang kambing, sapi atau kompos berbasis pestisida nabati),  diberikan setahun dua kali yaitu, pada awal dan akhir musim hujan masing-masing sebanyak 20-25 kg/pohon. Pupuk diberikan dengan cara disebar di daerah perakaran cengkeh kemudian ditimbun dengan tanah.

 

Anjuran pupuk tanaman berdasarkan tingkat umur.

Umur tanaman

(tahun)

Dosis pupuk (kg/ph/tahun)

Urea

SP-36

KCl

Pupuk organik

1

2 –3

4 –6

7 – 15

> 15

0,06

0,10-0,30

0,40-0,90

1-4

4-7

0,08

0,20-0,30

0,40-0,60

1-2

3-4

0,04

0,08- 0,12

0,16-0,24

1-2

3-5

5

5

7,5

7,5

10

Dipecah dalam 2 kali pemberian (awal dan akhir musim hujan)

 

Pengendalian Hama dan Penyakit

Upaya Pencegahan Serang Hama dan Penyakit  pada Tanaman Cengkeh

  1. Tanaman cengkeh yang ditanam secara monokultur akan lebih mudah terserang oleh hama dan penyakit
  2. Dianjurkan agar melakukan pola tanam campuran antara cengkeh dengan pala, jeruk, kopi atau tanaman lainnya
  3. Di Indonesia  ada indikasi bahwa penyebaran penyakit bakteri pembuluh kayu cengkeh (BPKC) dapat diperlambat dengan sistem pola tanam campuran atau tumpang sari
  4. Pemupukan dengan imbangan yang tepat (NPK + MgSCa+ Mikro= 13-8-19-3-6-1+1) à untuk meningkatkan ketahanan tanaman

 

PANEN BUNGA

6 bln setelah keluar bunga

5 – 8 TAHUN

9 - 25 TAHUN

> 25 TAHUN

-          Berdiri, dikait

-          Tangga berkaki

-          Dipanjat

-          Tangga 4 kaki

-           dua atau tiga

-          Tiang bambu

-          Jangan dipanjat

-          Jangan dipanjat

 

 

Materi II.

Judul            : Pengenalan dan Pengendalian OPT Cengkeh

Narasumber  :  Agus Ridwan

Instansi         :  Balai Proteksi Tanaman Perkebunan

 

Salah satu kendaladalam usaha tani cengkeh adalah adanya serangan OPT yang mengakibatkan rendahnya produksi. Seiring dengan kebutuhan bahan pengendalian OPT dan antisipasi masalah diatas, diperlukan langkah-langkah antara lain :

–        Sinergisme PHT

–        Kerjasama dalam tim PHT

–        Pemilihan alternatif komponen PHT:

  • Pestisida microba (Agens Pengendali Hayati)
  • Pestisida nabati
  • Pestisida kimia

–        Pengembangan pestisida nabati yang dilakukan oleh petani dengan teknologi yang sederhana

 

  1. Penyakit Cacar Daun Cengkeh/CDC (Phyllostica sp.)

-          Penyakit CDC dapat menyerang tanaman cengkeh mulai daripembibitan sampai tanaman produksi. Pada permukaan atas daun timbul bercak-bercak yang menggelembung seperti cacar.Gejala tersebut akan lebih jelas terlihat pada daun yang masih muda. Bercak-bercak tersebut kadang-kadang terdapat bintil-binti kecil. Selain pada daun, kadang- kadang terlihat juga pada buah.Daun-daun yang terkena penyakit CDC bentuknya tidak normal dan secara bertahap akan gugur.

-          Pengendalian penyakit CDC dilakukan secara kimiawi melalui penyemprotan fungisida dengan interval 7-10 hari sekali, sedangkan untuk pencegahan dapat dilakukan 10-14 hen sekali. Beberapa jenis fungisida yang dapat digunakan antara lain Delsen MX- 200 0,2%, Maneb Brestan 0,3%, dan Difolatan 0,2%. Sanitasi kebun perlu mendapat perhatian. Daun, ranting, dan biji dari tanaman sakit yang jatuh ke tanah sebaiknya dikumpulkan dan dibakar. Pohon-pohon yang terserang berat sebaiknya ditebang dan dibakar.

  1. Penyakit Bakteri Pembuluh Kayu Cengkeh (BPKC)

-          Penyakit Bakteri Pembuluh Kayu Cengkeh (BPKC) Penyakit BPKC merupakan salah satu penyakit yang paling merusak tanaman cengkeh karena dapat menyebabkan  kehilangan hasil mencapai 10-15%. Penyebabnya adalah bakteri Pseudomonas syzygii. Penularan penyakit BPKC dari pohon sakit ke pohon sehat melalui vektor berupa serangga Hindola fulfa (di Sumatera) dan Hindola. striata (di Jawa).

-          BPKC yang ditandai dengan gugurnya daun di bagian pucuk pohon pengendaliannya yaitu  pangkal batang atau akar segera diinfus dengan antibiotika oksitetrasiklin (OTC) sebanyak 6 gr/100 ml air. Jarum infus yang digunakan berdiameter 1 mm. Penginfusan dilakukan setiap 3-4 bulan sekali. Pengendalian dapat dipadukan dengan melakukan penyemprotan insektisida dengan sasaran serangga vektor penular penyakit BPKC menggunakan insektisida Matador 25 EC, Akodan 35 EC, Curacron 500 EC dan Dads 2,5 EC dengan interval 6 minggu sekali sampai serangga vektor tidak ada lagi. Pohon-pohon yang terserang berat sebaiknya ditebang dan dibakar.

  1. Penyakit Mati Bujang/Mati Gadis

Gejalanya yaitu Daun yang tertinggal berwarna hijau suram, kadang-kadang kuning, layu.Proses penyakit ini lamanya 2 – 3 tahun sebelum pohon- pohon yang diserang mati.Penyebab utama adalah keadaan tanah yang tidak cocok untuk tanaman cengkeh yaitu tanah-tanah yang drainasenya  jelek, tanah selalu becek dimusim hujan dan kering /  membelah di musim kemarau.

  1. Penyakit Mati Ranting   

Gejalanya yaitu Daun berwarna kekuning-kuningan, tampak layu kemudian berguguran sehingga ujung ranting tampak gundul. Kematian daun dan ranting mulai dari ujung ranting di bawah puncak pohon terus menjalar sampai ke batang. Penyebab :Karena kekurangan hara / kehabisan hara setelah panen “ tahun   besar “ tanpa pemeliharaan yang cukup.

  1. Penyakit Embun Jelaga (Capnodium sp)

Gejala serangan: Pada permukaan daun tampak lapisan berwarna abu-abu kehitaman.  Pada serangan berat, lapisan hitam akan menutup permukaan daun, tangkai daun dan ranting. Akibat serangan penyakit ini tanaman menjadi sulit berfotosintesis.

  1. Rayap dikendalikan dengan cara menyemprot seluruh ranting dan daun dengan insektisida Diazinon 60 EC atau Agrothion. Sedangkan Untuk tanaman dewasa, batang diolesi dengan insektisida Dimecron, Orthane atau Bidrin sampai ketinggian 0,5-0,75 m dari permukaan tanah, atau  pemberian insektisida berbentuk butiran seperti Furadan 3G yang diberikan di daerah perakaran tanaman cengkeh.
  2. Penggerek batang dapat dikendalikan dengan cara mekanis yaitu dengan mengambil dan memusnahkan telur penggerek yang menempel pada kulit batang dan menutup lubang gerekan dengan pasak kayu. Pengendalian cara kimiawi dapat dilakukan dengan memasukkan insektisida/racun pernapasan ke dalam lubang gerekan kemudian ditutup dengan pasak kayu. lnsektisida yang dapat digunakan adalah : Akodan 35 EC 0,10-0,15 %, Curacron 500 EC 0,1-0,2 % dan Bestox 50 EC 0,25-0,50 %. Dapat pula menaburkan insektisida sistemik berbahan aktif carbofuran (misalnya Furadan 3 G) dengan dosis 115-150 g/pohon diberikan 3 bulan sekali.

 





Kalender Kegiatan

REB
28
Pasar Tani

Diselenggarakan pasar tani secara berkala setiap bulan


Lokasi : Halaman Kantor Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Bogor
DES
02
Pasar Tani

Diselenggarakan secara berkala setiap bulan


Lokasi : Kantor Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor
NOV
04
Pasar Tani

Diselenggarakan pasar tani Bulan November 2016 secara berkala tiap bulan


Lokasi : Kantor Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor
OCT
07
Pasar Tani

Diselenggarakan pasar tani Bulan Oktober 2016 secara berkala tiap bulan


Lokasi : Kantor Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor
SEPT
09
Pasar Tani

Diselenggarakan pasar tani Bulan September 2016 secara berkala tiap bulan


Lokasi : Kantor Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor
pohon
Bogor Coffee Festival 2016
Barista Competition
2017 © Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan